4-negara-yang-paling-banyak-berikan-utang-ke-indonesia

4 Negara Yang Paling Banyak Berikan Utang ke Indonesia

4 Negara Yang Paling Banyak Berikan Utang ke Indonesia – Bank Indonesia (BI) mencontohkan, utang luar negeri Indonesia (ULN) pada kuartal I 2019 tercatat USD387,6 miliar atau setara dengan Rp5.542,6 triliun (kurs Rp14.300).

 4-negara-yang-paling-banyak-berikan-utang-ke-indonesia
Sumber : acehonline.co

4 Negara Yang Paling Banyak Berikan Utang ke Indonesia

ffaire.com – Termasuk komposisi utang luar negeri pemerintah, utang luar negeri Amerika Serikat adalah $ 187,7 miliar, meningkat 3,6%. Pada saat yang sama, pendapatan hutang luar negeri swasta mencapai US $ 197,1 miliar, meningkat 12,8% dibandingkan triwulan sebelumnya.

Negara mana yang memberikan hutang kepada RI?

1. Singapura

Singapura
Sumber : money.kompas.com

Bank Indonesia (BI) baru saja melansir data terbaru perihal posisi utang luar negeri Indonesia. Per Maret 2016, utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar USD 315,98 miliar atau setara dengan Rp 4.222 triliun (kurs hari ini). Angka utang ini naik dibanding bulan di awalnya atau Februari 2016 yang tercatat cuma USD 312,22 miliar.

Dikutip berasal dari data Bank Indonesia, sumber utang luar negeri berasal berasal dari 3 macam kreditor. Pertama adalah berasal dari beragam negara dengan keseluruhan USD 177,4 miliar. Kemudian berasal dari organisasi internasional sebesar USD 29,46 miliar serta lainnya sebesar USD 109,11 miliar.

Dari sisi negara, Singapura tercatat sebagai pemberi utang terbesar ke Indonesia dengan keseluruhan raih USD 54,93 miliar atau setara dengan Rp 734 triliun. Selanjutnya disusul oleh Jepang dengan keseluruhan utang raih USD 32,52 miliar. China sementara ini termasuk memadai besar berikan utang ke Indonesia dengan nilai raih USD 13,89 miliar dan disusul oleh Amerika Serikat sebesar USD 9,53 miliar. Masih banyak negara lain yang berikan utang ke Indonesia dengan nilai di bawah USD 10 miliar seperti Hong Kong, Jerman, Korea Selatan, Spanyol dan lain sebagainya.

Sedangkan berasal dari sisi organisasi internasional, IBRD tercatat sebagai pemberi utang terbesar dengan nilai USD 15,05 miliar. Kemudian ADB termasuk berikan utang sebesar USD 9,1 miliar. Selanjutnya disusul oleh IMF sebesar USD 2,7 miliar. Masih banyak organisasi lainnya seperti EIB, NIB dan lain sebagainya yang berikan utang ke Indonesia.

Namun demikian, Adviser IMF Benedict Bingham dulu menjelaskan Indonesia sudah tidak ulang berutang pada lembaga moneter internasional tersebut. Adapun utang dicantumkan didalam data statistik utang luar negeri Bank Indonesia itu merupakan kuota penyertaan modal Indonesia didalam bentuk mata uang tertentu IMF, biasa disebut special drawing rights (SDR).

“Berdasarkan dokumen perjanjian, alokasi SDR kepada semua negara anggota disesuaikan dengan proporsi kuota mereka di IMF. Ini didalam rangka menyediakan likuiditas tambahan membuat negara anggota.”

Saat ini, lanjut Benedict, kuota Indonesia sebesar SDR 1,98 juta atau setara USD 2,8 juta. Berdasarkan standar akuntansi, penyertaan modal ini diperlakukan sebagai utang atau kewajiban luar negeri harus ditanggung Bank Indonesia.

“Sementara, kepemilikan SDR diperlakukan sebagai aset Bank Indonesia,” katanya. “Jadi, dikala SDR dialokasikan, itu tidak membuat perubahan posisi utang negara anggota pada IMF, Seperti yang dilansir Wikipedia

Baca Juga : Kumpulan Strategi Pemasaran Bisnis Online

2. China

China
Sumber : gfmag.com

Hubungan Indonesia China dalam sebagian hari paling akhir sedang panas dingin. Ini sesudah insiden masuknya kapal-kapal nelayan asal China yang dikawal kapal coast guard terdeteksi masuk ke perairan Natuna secara ilegal. Masuknya kapal-kapal Negeri Tirai Bambu di Zona Eksklusif Ekonomi ( ZEE) Indonesia di perairan Natuna sebabkan berang pihak Indonesia. Pemerintah sendiri, melalui Kementerian Luar Negeri, udah mengirim nota protes formal dan memanggil Dubes China untuk Indonesia di Jakarta. Banyak pihak menilai, pemerintah belum bersikap keras pada China yang mengklaim Natuna berdasarkan nine dash line dan traditional fishing right. Bahkan, oleh sebagian kalangan, sikap ini dikaitkan-kaitkan dengan ketergantungan Indonesia pada China, pinjaman luar negeri salah satunya. Berapa pinjaman luar negeri Indonesia ke China? Berdasarkan data statistik pinjaman luar negeri Indonesia (SULNI) yang dirilis Bank Indonesia (BI) periode terbaru, yakni per September 2019 menurut negara pemberi kredit, pinjaman Indonesia yang berasal dari China tercatat sebesar 17,75 miliar dollar AS atau setara Rp 274 triliun (kurs Rp 13.940).

Posisi pinjaman Indonesia pada China ini meningkat tidak tebal dibandingkan per Agustus 2019 yang mencatatkan pinjaman sebesar Rp 17,09 miliar dollar. China sejak sebagian tahun belakangan menjadi salah satu negara penyumbang terbesar untuk Indonesia atau kala ini berada di posisi keempat. Negara pemberi kredit terbesar Indonesia tetap ditempati Singapura dengan jumlah pinjaman sebesar 66,49 miliiar dollar AS, disusul Jepang 29,42 miliar dollar AS, Amerika Serikat 22,46 juta dollar AS. Total keseluruhan pinjaman luar negeri Indonesia per September 2019 sebesar 202,31 miliar dollar AS. Masih di periode yang sama, terkecuali dirinci lebih lanjut, pinjaman Indonesia terbagi dalam pinjaman pemerintah sebesar 194,35 miliar dollar AS dan pinjaman yang berasal dari Bank Indonesia tercatat 2,78 miliar dollar AS. Sementara pinjaman luar negeri yang berasal dari sektor swasta yang dicatat Bank Indonesia yakni 198,49 miliar dollar AS. Sebagai informasi, perkembangan pinjaman lebih-lebih terbujuk oleh transaksi pembayaran neto pinjaman luar negeri. Dari data SULNI pinjaman luar negeri adalah posisi pinjaman yang mengakibatkan kewajiban membayar kembali pokok atau bunga pinjaman kepada pihak luar negeri atau bukan masyarakat baik dalam valuta asing maupun rupiah dan tidak terhitung kontinjen.

Yang terhitung dalam pengertian pinjaman luar negeri adalah surat miliki nilai yang diterbitkan di dalam negeri yang mengakibatkan kewajiban membayar kembali kepada pihak luar negeri atau bukan penduduk. Nota protes Sebelumnya pemerintah Indonesia melalui Kemenlu memanggil Duta Besar China di Jakarta dan memberikan protes kerasnya. “Kemlu udah memanggil Dubes RRT di Jakarta dan memberikan protes keras pada kejadian tersebut. Nota diplomatik protes terhitung udah disampaikan,” demikian pernyataan Kemenlu. Kemenlu menyebutkan, Dubes China mencatat protes yang dilayangkan untuk segera diteruskan ke Beijing. “Dalam pertemuan kemarin, Dubes RRT dapat menyampaikannya ke Beijing,” kata Staf Ahli Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah, kala dikonfirmasi Kompas.com. Hal ini dinilai mutlak supaya jalinan bilateral ke-2 negara senantiasa terjadi dengan baik dan saling memberi tambahan keuntungan. Wilayah ZEE ditetapkan oleh United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).

Baik Indonesia maupun China merupakan anggota dari itu supaya perlu saling menghargai lokasi kedaulatan satu serupa lain. “Menegaskan kembali bahwa Indonesia tidak punya overlapping jurisdiction dengan RRT (China). Indonesia tidak dapat dulu mengakui 9 dash-line RRT, sebab penarikan garis tersebut bertentangan dengan UNCLOS sebagaimana diputuskan melalui Ruling Tribunal UNCLOS tahun 2016,” demikian Kemenlu. Menyikapi perihal ini, Kemenlu dapat tetap laksanakan koordinasi dengan bermacam pihak terkait, seperti TNI, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Badan Keamanan Laut (Bakamla). Upaya ini dikerjakan untuk menegakkan hukum di ZEE Indonesia. Dugaan masuknya kapal China ke lokasi Perairan Natuna terhitung ramai menjadi perbincangan di tempat sosial. Ada video yang diunggah perihal upaya yang dikerjakan otoritas Indonesia menghendaki kapal tersebut untuk meninggalkan lokasi Indonesia. Akan tetapi, perintah ini tak diindahkan.

3. Jepang

Jepang
Sumber : republika.co.id

Pemerintah Jepang bakal menambahkan pinjaman senilai 50 miliar yen atau kira-kira Rp6,9 triliun (asumsi kurs Rp139 per yen) untuk membantu penanggulangan bencana di Indonesia. Kebijakan itu disepakati usai Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga berjumpa bersama dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Kepresidenan Bogor pada Selasa (20/10).

“Dengan pertimbangkan pengaruh penyebaran covid-19 pada perekonomian Indonesia, pada kesempatan ini Jepang telah memastikan perlindungan pinjaman sebagai perlindungan fiskal sebesar 50 miliar yen untuk menambah kapasitas penanggulangan bencana Indonesia,” ujar Suga dalam info yang disiarkan Youtube Sekretariat Negara.

Selain itu, Jepang bakal mendorong kerjasama pada instansi pengkajian kebugaran di Indonesia lewat perlindungan barang dan peralatan medis.

“Kemudian kami meyakinkan untuk mengawali kembali perjalanan antara ke dua negara bagi pebisnis, juga perawat dan care keeper di bawah kerangka Jepang-Indonesia APA atau IJAPA, sekaligus kami setuju untuk mengawali kembali secepat-cepatnya perjalanan bersama dengan tujuan bisnis untuk jangka pendek, bersama dengan melonggarkan langkah isolasi independent selama 14 hari sesudah memasuki negara tujuan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Suga juga meyakinkan komitmen Jepang untuk memajukan kerja mirip di bidang infrastruktur bersama dengan Indonesia, juga pembangunan proyek Moda Raya Terpadu (MRT).

“Jepang bakal secara mantap memajukan kerjasama di bidang infrastruktur seperti pembangunan MRT, Kereta semi cepat jalur Jakarta-Surabaya, pembangunan dan pengelolaan pelabuhan Patimban, pembangunan pulau-pulau terluar, serta kerja mirip untuk menambah ketahanan ekonomi,” ujar Suga.

Sebagai informasi, Suga terpilih menjadi Perdana Menteri Jepang mengambil alih Shinzo Abe beberapa waktu lalu. Setelah ia terpilih, Indonesia menjadi negara pertama yang ia kunjungi dalam perjalanan bilateral ke sejumlah negara.

4. Amerika Serikat

Amerika Serikat
Sumber : money.kompas.com

Indonesia menjadi negara nomer 7 di dunia yang memiliki utang terbesar. Meski demikian, Kementerian Keuangan menilai posisi utang sementara ini masih ada di zona nyaman.

Bank Dunia pun mengemukakan laporan International Debt Statistics ISD2021 atau Statistik Utang Internasional. Dalam laporan tersebut Indonesia masuk ke di dalam daftar 10 negara berpendapatan kecil-menengah dengan utang luar negeri terbesar di dunia.

Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia meningkat. Posisi ULN Indonesia terhadap akhir Agustus 2020 tercatat sebesar USD413,4 miliar atau setara Rp6.076,98 triliun (kurs Rp14.700 per USD).

ULN ini terdiri berasal dari ULN sektor publik (Pemerintah dan Bank Sentral) sebesar USD203,0 miliar dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar USD210,4 miliar.

Ada sejumlah fakta menarik berasal dari posisi utang Indonesia terkini. Berikut beberapa fakta mengenai utang Indonesia

Baca Juga : 6 Perusahaan Media Terbesar di Dunia

1. Utang RI tetap Naik

Utang luar negeri Indonesia terhadap tahun 2019 raih USD402,08 miliar atau lebih kurang Rp5.940 triliun (kurs Rp 14.775). Angka tersebut naik tipis (5,9%) berasal dari posisi utang luar negeri di tahun 2018 yakni USD379,58 miliar atau lebih kurang Rp5.608 triliun dengan nominal nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sama.

2. Posisi 7, Negara Berkembang dengan utang Terbesar

Saat ini, Indonesia tempati posisi ke-7 berasal dari daftar 10 negara berpendapatan kecil-menengah dengan utang luar negeri terbesar di dunia. Posisi pertama di tempati China, lalu kedua Brasil, dan ke-3 India, ke-4 Rusia, posisi ke-5 adalah Meksiko, ke-6 Turki, ke-8 Argentina, ke-9 Afrika Selatan dan terakhir Thailand.

3. Negara Boleh Tambah Utang dengan Syarat

Indonesia mesti mampu memakai utang untuk kebutuhan produktif. Salah satunya mampu berdampak terhadap menambahkan penghasilan negara

Misalnya utang itu mesti mampu dimanfaatkan untuk masyarakat seperti pelaku UMKM di dalam perihal menambahkan modal, agar untuk raih Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita sebesar USD16.000 terhadap tahun 2030 sepertinya masih susah.

4. Kondisi Utang RI Mengkhawatirkan

Ekonom senior berasal dari Indef Aviliani menilai, jika dibandingkan segi penerimaan pajak, maka situasi utang sementara ini terlampau mengkhawatirkan. Sebab, kebolehan teristimewa dan pengusaha di Indonesia masih terlampau kecil jika dibandingkan dengan kuantitas utang.

Sekarang ini kuantitas penerimaan pajak di Indonesia masih terlampau kecil jika dibandingkan dengan negara-negara yang ada di ASEAN. Oleh dikarenakan itu kala pemerintah hendak ingin meminjam uang sebaiknya memperhatikan segi pendapatannya juga.

“Memang jikalau menyaksikan utang dengan situasi perpajakan mengkhawatirkan, dikarenakan kelihatannya ke depan itu apakah mampu pajak kita mampu membayar utang,” kata Aviliani

5. Utang Indonesia Diprediksi Bisa Salip Turki

Indonesia masuk ke di dalam 10 negara pendapat kecil-menengah dengan utang terbanyak. Hal ini terungkap di dalam International Debt Statistics 2021 (Statistik Utang Internasional 2021) yang dikeluarkan Bank Dunia.

Laporan itu mengatakan Indonesia memiliki kuantitas utang luar negeri sebesar USD402,08 miliar atau lebih kurang Rp5.940 triliun (kurs Rp14.775) di 2019. Jumlah itu menempatkan Indonesia di peringkat ke-7 sehabis China, Brazil, India, Rusia, Meksiko, dan Turki.

Diperkirakan utang Indonesia langsung berada di atas Turki dan Meksiko di dalam beberapa tahun ke depan. Turki memiliki utang USD440,7 miliar di 2019, Meksiko memiliki utang luar negeri USD469,7 miliar. Sementara Indonesia kuantitas ULN nya USD402 miliar di 2019.

6. Guyuran Utang berasal dari IMF Buat Atasi Krisis

Lembaga keuangan Internasional seperti International Monetary Fund (IMF) mengimbuhkan pembiayaan kepada negara terdampak pandemi virus corona. IMF juga mengimbuhkan pembiayaan untuk negara miskin dan berkembang.

Menteri Keuangan Sri Mulyani, utang itu memiliki mekanisme untuk menegaskan bahwa utangnya dapat dipinjam dengan benar. Adapun, pentingnya Debt Service Suspension Initiative (DSSI) sebagai respon atas seruan Bank Dunia dan IMF untuk mengimbuhkan penangguhan pembayaran utang kepada negara miskin untuk mendukung mereka di dalam mengantisipasi dampak pandemi Covid- 19.

“Saya tidak dapat bersikap skeptis, terhadap sementara yang mirip banyak berasal dari negara ini terlampau membutuhkan bantuan agar DSSI yang sekarang sedang dibahas di G20 dapat menjadi keliru satu inisiatif, di mana masyarakat internasional mesti menyaksikan beban utang khususnya di negara miskin agar mereka tidak hanya mampu bertahan berasal dari krisis ini tetapi juga pulih ke jalur pertumbuhan mereka,” jelasnya.

Please follow and like us:
YouTube
Pinterest
Instagram